Beberapa hari berlalu begitu saja.
Tidak ada kejadian besar.
Hanya hari-hari yang berjalan pelan, namun terasa penuh.
Aku menyusun halaman Medium hingga lebih rapi, membuat Linktree yang akhirnya menghubungkan semua hal yang pernah kukerjakan, memperbaiki beberapa tulisan lama, belajar memainkan melodi Risalah Hati sedikit demi sedikit, lalu sesekali hanya duduk memandangi langit sore dari jendela kamar.
Rapor semester akhirnya dibagikan. Beberapa nama di papan peringkat berubah cukup jauh dari yang kubayangkan. Aku masih berada di tempat yang membuatku bersyukur, tetapi angka-angka itu terasa seperti penutup sebuah bab, bukan tujuan yang harus terus kukejar.
Liburan akhirnya benar-benar dimulai.
Anehnya, setelah semua kesibukan itu selesai, aku justru teringat pada satu tempat yang sudah beberapa kali menyambutku tanpa pernah bertanya apa pun.
Perpustakaan itu.
Entah mengapa, rasanya aku ingin kembali ke sana.
Bukan untuk mencari jawaban.
Bukan pula karena sedang terluka.
Aku hanya ingin duduk sebentar.
Mungkin... mengucapkan terima kasih pada seseorang yang telah menjadi saksi begitu banyak perubahan dalam diriku.
Aku akhirnya datang ke perpustakaan itu lagi.
Aku mengambil buku yang sama seperti beberapa hari lalu. Buku yang bahkan belum benar-benar kubaca. Rasanya lucu, tempat ini perlahan menjadi tempatku mengingat, bukan lagi tempatku mencari.
Langkah kaki pelan terdengar mendekat.
"Kamu datang lagi."
Aku menoleh.
Melly berdiri sambil membawa dua cangkir cokelat hangat.
"Kupikir kamu akan muncul dari balik rak buku lagi."
"Aku memang sengaja." Dia tertawa kecil. "Lebih dramatis."
Aku ikut tertawa.
Kami duduk berhadapan seperti biasa.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Anehnya, kali ini tidak canggung.
Kami hanya menikmati suara halaman buku yang dibalik seseorang di ujung ruangan.
"Ada yang berubah."
Aku menatapnya.
"Apanya?"
"Kamu."
"Dulu setiap datang ke sini, kamu selalu membawa sesuatu yang ingin diselesaikan."
"Masalah ujian."
"Nilai."
"Nazka."
"Harapan."
"Ketakutan."
Dia menghitungnya menggunakan jari.
"Hari ini?"
Dia memandangku beberapa detik.
"Kamu cuma datang."
Aku tersenyum pelan.
"Iya."
"Hidupku rasanya lebih... tenang."
Melly mengangguk pelan.
"Aku tahu."
Aku mulai menceritakan semuanya.
Tentang rapor yang akhirnya dibagikan.
Tentang papan peringkat yang berubah.
Tentang guru yang mengatakan agar kami tidak terpaku pada angka itu.
Dan bagaimana untuk pertama kalinya aku benar-benar mengangguk bukan karena sopan, melainkan karena mengerti.
"Aku masih senang mendapat nilai yang baik."
"Tentu."
"Tapi rasanya bukan itu lagi tujuan utamanya."
Melly tersenyum.
"Itu namanya bertumbuh."
Aku melanjutkan ceritaku.
Tentang nilai IPA.
Tentang matematika yang akhirnya tidak seburuk kekhawatiranku.
Tentang bahasa Jawa yang masih membuatku sedikit kesal.
Tentang bagaimana aku berjalan mengelilingi area luar sekolah bersama dua temanku.
Masjid.
Perumahan.
Lalu ke Food Park Natura karena lapar.
Kami tidak sedang pergi ke mana-mana.
Kami hanya ingin mengingat.
Kami hanya ingin bersama.
Aku juga bercerita tentang blog.
Tentang Medium.
Tentang Linktree.
Tentang paper yang akhirnya memiliki rumah.
Tentang seorang teman yang mulai mengikuti tulisanku.
Tentang melodi Risalah Hati yang perlahan mulai bisa kumainkan.
Tentang semua hal kecil yang, jika dikumpulkan, ternyata sudah sangat banyak.
Melly mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Sampai akhirnya dia bertanya,
"Nazka?"
Aku tersenyum.
Lucunya, kali ini aku tidak gugup.
"Aku masih menyukainya."
"Lalu?"
"Tidak banyak... kami masih seperti biasa."
"Itu saja?"
"Aku sempat hampir memberi tahu beberapa teman lagi."
"Hampir?"
"Iya."
"Tapi belum jadi."
"Kenapa?"
Aku mengangkat bahu.
"Entahlah."
"Mungkin belum waktunya."
Melly mengangguk pelan.
"Kamu tahu?"
"Apa?"
"Dulu kamu ingin segera mengetahui akhir ceritanya."
Dia menatapku cukup lama.
"Sekarang kamu menikmati setiap halamannya."
Aku memandang keluar jendela perpustakaan.
Langit siang tampak cerah.
"Aku rasa benar."
"Aku tidak terlalu memikirkan apakah kami akan bersama."
"Aku hanya senang pernah mengenalnya."
Raut muka jahil Melly mulai terlihat.
"Kalau nanti memang bertemu lagi..."
"Syukur."
"Kalau ternyata tidak..."
Aku tersenyum.
"...aku tetap akan menjadi Danang yang lebih baik."
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan.
Lalu Melly menarik napas panjang.
"Danang."
"Hm?"
"Aku rasa..."
Dia tersenyum.
"...ini terakhir kalinya kita bertemu di sini."
Aku menatapnya beberapa detik.
Aneh.
Aku tidak kaget.
Seolah aku memang sudah mengetahuinya sejak datang.
"Aku juga berpikir begitu."
Melly mengangguk.
"Selama ini aku tidak pernah benar-benar memberimu jawaban."
"Mungkin."
"Aku hanya membantu kamu menemukannya sendiri."
Aku tersenyum kecil.
"Dan sekarang?"
"Kalau sekarang..."
Dia menunjuk dadaku perlahan.
"...orang yang selama ini kamu cari sudah ada di sana."
Aku mengikuti arah telunjuknya.
"Dulu kamu datang kemari membawa pertanyaan."
"Sekarang kamu datang membawa cerita."
"Dulu kamu takut gagal."
"Sekarang kamu mulai berani mencoba."
"Dulu kamu ingin semuanya pasti."
"Sekarang kamu bisa hidup berdampingan dengan ketidakpastian."
"Dulu kamu terus bertanya apakah dirimu cukup."
"Sekarang kamu bertanya bagaimana caranya menjadi lebih baik."
Dia berhenti sejenak.
"Menurutku..."
"Itu jauh lebih indah."
Mataku terasa sedikit hangat.
Bukan karena sedih.
Lebih seperti...
haru.
"Melly."
"Hm?"
"Terima kasih."
Dia tertawa kecil.
"Untuk apa?"
"Sudah menjadi temanku."
Dia menggeleng pelan.
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku hanya kebetulan duduk di bangku yang sama denganmu."
"Yang berjalan sejauh ini tetap kamu."
Aku tersenyum.
"Kalau begitu..."
"...selamat jalan?"
Melly berdiri sambil merapikan bukunya.
"Bukan."
Dia menoleh.
"Selamat menikmati."
"Menikmati?"
"Hidupmu. Karena mulai hari ini..."
"...kamu tidak lagi membutuhkanku untuk melihat bahwa besok selalu layak disambut."
Dia melangkah beberapa langkah.
Lalu berhenti.
"Oh ya."
Aku mendongak.
"Aku hampir lupa."
Dia mengeluarkan ponselnya.
"Boleh minta semua hasil kerja kerasmu?"
Aku tertawa kecil.
"Kamu serius?"
"Tentu."
"Aku ingin membaca semuanya."
Aku mengeluarkan ponsel dari saku.
Membuka Linktree yang beberapa hari terakhir kususun dengan hati-hati.
"Lewat sini saja."
Melly menerima ponsel itu.
Matanya berbinar.
"Wah..."
"Kamu benar-benar membuat rumah untuk semua mimpimu."
Aku hanya tersenyum.
"Mungkin baru fondasinya."
"Justru itu."
Dia mengembalikan ponselku.
"Rumah yang kokoh selalu dimulai dari fondasi."
Melly berjalan menuju pintu perpustakaan.
Sebelum benar-benar keluar, dia menoleh untuk terakhir kalinya.
"Danang."
"Iya?"
"Jangan berhenti menulis."
"Karena suatu hari nanti..."
"...akan ada seseorang yang menemukan dirinya sendiri melalui cerita-ceritamu."
Aku mengangguk pelan.
Lalu kulihat pintu perpustakaan itu tertutup perlahan.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada perpisahan yang dramatis.
Hanya seorang teman...
yang selesai mengantarku sampai bab berikutnya.
Aku menatap layar ponsel sekali lagi.
Bukan untuk memastikan apakah Melly benar-benar ada.
Melainkan untuk melihat semua hal yang telah berhasil kubangun.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
aku merasa cukup bangga pada diriku sendiri.
"Kalau suatu hari nanti aku lupa sejauh mana aku pernah berjalan..."
"...mungkin semua jejak ini akan mengingatkanku."
Linktree
https://linktr.ee/danangsiseka
Medium
https://medium.com/@danangsiseka
Academia Edu
https://independent.academia.edu/RasyaDanangKurniaSiseka
GitHub
https://github.com/danangsiseka
Quora
https://id.quora.com/profile/Danang-Siseka
Aku mengunci layar ponselku perlahan.
Di luar perpustakaan, matahari sudah mulai condong ke barat. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun yang sejak tadi menjadi saksi percakapan kami.
Aku sempat menoleh ke belakang.
Bangku itu masih ada.
Buku-buku masih tersusun rapi.
Namun entah mengapa, tempat itu terasa berbeda.
Mungkin karena seseorang memang tidak benar-benar pergi.
Dia hanya meninggalkan bagian terbaiknya di dalam diri orang lain.
Aku menarik napas panjang.
Rasanya masih ada banyak tempat yang ingin kudatangi.
Masih ada banyak hal yang ingin kupelajari.
Masih ada banyak cerita yang ingin kutulis.
Dan untuk pertama kalinya...
Aku tidak terburu-buru mencapai akhirnya.
Aku menyalakan mesin Vario itu sekali lagi.
Kali ini, aku tidak mencari siapa pun di sepanjang jalan.
Aku hanya tersenyum kecil.
Sebab aku tahu...
Di suatu tempat yang bahkan belum kutemui,
sebuah bab baru sudah menungguku.
Komentar
Posting Komentar