Beberapa hari berlalu begitu saja. Tidak ada kejadian besar. Hanya hari-hari yang berjalan pelan, namun terasa penuh. Aku menyusun halaman Medium hingga lebih rapi, membuat Linktree yang akhirnya menghubungkan semua hal yang pernah kukerjakan, memperbaiki beberapa tulisan lama, belajar memainkan melodi Risalah Hati sedikit demi sedikit, lalu sesekali hanya duduk memandangi langit sore dari jendela kamar. Rapor semester akhirnya dibagikan. Beberapa nama di papan peringkat berubah cukup jauh dari yang kubayangkan. Aku masih berada di tempat yang membuatku bersyukur, tetapi angka-angka itu terasa seperti penutup sebuah bab, bukan tujuan yang harus terus kukejar. Liburan akhirnya benar-benar dimulai. Anehnya, setelah semua kesibukan itu selesai, aku justru teringat pada satu tempat yang sudah beberapa kali menyambutku tanpa pernah bertanya apa pun. Perpustakaan itu. Entah mengapa, rasanya aku ingin kembali ke sana. Bukan untuk mencari jawaban. Bukan pula karena sedang terluka. Aku hanya in...
Getaran halus dari gelang pintarku membangunkanku. Bukan suara alarm yang nyaring. Hanya getaran kecil di pergelangan tangan. Namun cukup untuk menarikku keluar dari sebuah mimpi yang terasa begitu nyata. Aku membuka mata perlahan. Langit-langit kamarku menyambut seperti biasa. Tetapi pikiranku masih tertinggal di tempat lain. Aku sedang berada di sebuah bukit. Jalanannya beraspal, tetapi penuh retakan dan beberapa bagian tampak rusak. Rumput liar tumbuh di tepian jalan. Langitnya mendung, meski tidak sampai gelap. Aku mendorong Vario milikku. Aneh. Biasanya aku mengendarainya. Namun dalam mimpi itu, aku hanya berjalan sambil menuntunnya. Seolah aku tahu ke mana harus pergi, tetapi tidak benar-benar tahu caranya sampai ke sana. Aku terus berjalan. Sampai akhirnya menemukan sebuah taman kecil. Ada seorang perempuan. Ada seorang laki-laki. Mereka tampak sedang berbincang. Mungkin berkencan. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat wajah mereka. Hanya perasaan hangat yang samar. Lalu...