Langsung ke konten utama

Postingan

Jejak yang Kutitipkan

Beberapa hari berlalu begitu saja. Tidak ada kejadian besar. Hanya hari-hari yang berjalan pelan, namun terasa penuh. Aku menyusun halaman Medium hingga lebih rapi, membuat Linktree yang akhirnya menghubungkan semua hal yang pernah kukerjakan, memperbaiki beberapa tulisan lama, belajar memainkan melodi Risalah Hati sedikit demi sedikit, lalu sesekali hanya duduk memandangi langit sore dari jendela kamar. Rapor semester akhirnya dibagikan. Beberapa nama di papan peringkat berubah cukup jauh dari yang kubayangkan. Aku masih berada di tempat yang membuatku bersyukur, tetapi angka-angka itu terasa seperti penutup sebuah bab, bukan tujuan yang harus terus kukejar. Liburan akhirnya benar-benar dimulai. Anehnya, setelah semua kesibukan itu selesai, aku justru teringat pada satu tempat yang sudah beberapa kali menyambutku tanpa pernah bertanya apa pun. Perpustakaan itu. Entah mengapa, rasanya aku ingin kembali ke sana. Bukan untuk mencari jawaban. Bukan pula karena sedang terluka. Aku hanya in...
Postingan terbaru

Sepeda yang Belum Bisa Dikendarai

 Getaran halus dari gelang pintarku membangunkanku. Bukan suara alarm yang nyaring. Hanya getaran kecil di pergelangan tangan. Namun cukup untuk menarikku keluar dari sebuah mimpi yang terasa begitu nyata. Aku membuka mata perlahan. Langit-langit kamarku menyambut seperti biasa. Tetapi pikiranku masih tertinggal di tempat lain. Aku sedang berada di sebuah bukit. Jalanannya beraspal, tetapi penuh retakan dan beberapa bagian tampak rusak. Rumput liar tumbuh di tepian jalan. Langitnya mendung, meski tidak sampai gelap. Aku mendorong Vario milikku. Aneh. Biasanya aku mengendarainya. Namun dalam mimpi itu, aku hanya berjalan sambil menuntunnya. Seolah aku tahu ke mana harus pergi, tetapi tidak benar-benar tahu caranya sampai ke sana. Aku terus berjalan. Sampai akhirnya menemukan sebuah taman kecil. Ada seorang perempuan. Ada seorang laki-laki. Mereka tampak sedang berbincang. Mungkin berkencan. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat wajah mereka. Hanya perasaan hangat yang samar. Lalu...

Lagu yang Tertinggal di Ujung Senja

Pagi itu aku memacu Vario milikku sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena terlambat. Justru karena terlalu tidak sabar. Udara pagi masih terasa sejuk saat angin menerpa wajahku. Jalanan belum terlalu ramai. Aku menyenandungkan potongan lagu yang bahkan belum diputar hari itu, sekadar karena suasana hatiku sedang terlalu ringan untuk diam. Hari ini berbeda. Hari ini bukan ujian. Hari ini bukan tentang nilai. Hari ini adalah tentang menikmati sesuatu yang selama beberapa minggu terakhir hanya menjadi hitungan mundur di kepalaku. Setelah memarkir motor di bawah jembatan dekat sekolah, aku melihat seseorang baru saja turun dari CBR250 miliknya. Alfito. "Akhirnya datang juga," kataku. Dia hanya tertawa kecil sebelum kami berjalan bersama. Tak lama kemudian, kami menemukan Krisna. Dia berdiri agak menjauh dari keramaian, tampak ragu. "Ayo masuk," kataku. "Teman sekelasku belum ada, temani dong!" jawabnya pelan. Aku dan Fito saling berpandangan. "Ya ...

Mimpi yang Tertinggal di Jembatan

 Aku tidak pernah bertemu Melly lagi setelah hari itu. Setelah percakapan di jembatan penyeberangan yang diterangi langit malam dan suara kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku kembali menjalani hidup seperti biasa. Setidaknya, seperti yang kupikir sebagai biasa. Aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan aneh. Aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Percakapan itu. Tatapan tenangnya. Cara dia mendengarkan tanpa menghakimi. Bahkan suasana malam di dunia yang hanya ada saat aku memejamkan mata. Namun, ketika aku kembali menutup mata beberapa saat kemudian, tidak ada apa-apa. Tidak ada jembatan. Tidak ada lampu kota. Tidak ada Melly. Seolah semua itu hanyalah mimpi. Dan mungkin memang begitu. Hari-hari setelahnya berjalan dengan pelan, tetapi berbeda. Aku mulai merapikan tempat tidur setiap pagi. Membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar. Aku mulai memperhatikan berapa banyak air yang kuminum. Aku mulai berdiri lebih sering daripada berbaring sambil me...

Kota yang Tak Lagi Terlalu Bising

12   Juni 2026 Malam sudah tiba. Lampu-lampu jalan mulai mengambil alih tugas matahari, kendaraan masih melintas di kejauhan, dan hiruk pikuk kota belum benar-benar hilang. Hanya saja, tidak lagi sekeras siang tadi. Seolah semua orang sepakat untuk sedikit melambat. Aku berdiri di tepi jembatan penyeberangan yang menghadap ke jalan raya. Angin malam membawa sisa hangat dari aspal yang seharian diterpa matahari. Entah kenapa aku berada di sini. Atau mungkin aku tahu alasannya. Hanya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku bersandar pada pagar pembatas. Ada banyak hal yang memenuhi pikiranku. Tentang ujian yang akhirnya selesai. Tentang nilai-nilai yang ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Tentang proyek-proyek yang masih terbengkalai. Tentang diriku sendiri. Tentang seseorang. Dan tentang pertanyaan yang tidak pernah benar-benar pergi. Apakah aku sudah cukup? "Kalau dipikir-pikir, kamu memang suka memikirkan banyak hal, ya." Suara itu terdengar di sampingku. Aku men...

Sore yang Sama, Langit yang Berbeda

10 Juni 2026 Ujian telah berakhir. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sebuah kemenangan besar. Seperti garis akhir setelah berlari sangat jauh. Seperti gerbang yang terbuka setelah lama terkunci. Namun, yang kurasakan justru sunyi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ledakan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya kelegaan yang pelan. Aku berjalan melewati jalan pulang dengan tas yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu lalu. Matahari hampir mencapai puncaknya, meninggalkan langit cerah yang panas. Angin menerpa wajahku. Setelah sekian lama, tidak ada buku yang harus segera kubuka setibanya di rumah. Tidak ada jadwal yang harus kususun. Tidak ada rumus yang harus kuhafal. Tidak ada watak macapat yang harus kuingat. Tidak ada. Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. "Jadi... ini rasanya." Aku menghela napas panjang-panjang. Lucu juga. Beberapa minggu terakhir aku terus memikirkan masa depan. Memikirkan nilai. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum jug...

Sebelum Malam Datang

Aku tak tahu mengapa aku menulis ini. Mungkin jika tak kutulis, pikiranku akan terus berkelana. Langit sore terlihat dari jendela kamar, cahayanya menyentuh kulitku. Jingga. Terang. Tenang. Dan, itu membuatku kesal. Bagaimana langit bisa setenang itu sementara isi kepalaku tidak? Di luar sana, dunia berjalan seperti biasanya. Tetangga menjemur pakaian. Burung-burung bertengger di kabel listrik. Seorang anak kecil bersepeda di gang. Sementara aku hanya duduk di sini, memikirkan sesuatu yang bahkan sudah tidak bisa kuubah. Jawaban. Nilai. Ranking. Bahkan masa depan. Aku mencoba menutup mata. Tetapi, semuanya tetap ada. Aku tetap mencoba mengingat soal yang kukerjakan. Aku tetap mencoba menghitung kemungkinan jawaban benar. Aku tetap mencoba memperkirakan nilainya. Dan semakin lama itu kupikirkan, dadaku terasa berat. Takut. Aku takut. Takut nilaiku jelek. Takut usahaku tidak cukup. Takut mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku. Takut setelah semua kerja keras ini, hasilnya tid...