Langsung ke konten utama

Sebelum Malam Datang

Aku tak tahu mengapa aku menulis ini.

Mungkin jika tak kutulis, pikiranku akan terus berkelana.

Langit sore terlihat dari jendela kamar, cahayanya menyentuh kulitku.

Jingga.

Terang.

Tenang.

Dan, itu membuatku kesal.

Bagaimana langit bisa setenang itu sementara isi kepalaku tidak?

Di luar sana, dunia berjalan seperti biasanya.

Tetangga menjemur pakaian.

Burung-burung bertengger di kabel listrik.

Seorang anak kecil bersepeda di gang.

Sementara aku hanya duduk di sini, memikirkan sesuatu yang bahkan sudah tidak bisa kuubah.

Jawaban.

Nilai.

Ranking.

Bahkan masa depan.

Aku mencoba menutup mata.

Tetapi, semuanya tetap ada.

Aku tetap mencoba mengingat soal yang kukerjakan.

Aku tetap mencoba menghitung kemungkinan jawaban benar.

Aku tetap mencoba memperkirakan nilainya.

Dan semakin lama itu kupikirkan, dadaku terasa berat.

Takut.

Aku takut.

Takut nilaiku jelek.

Takut usahaku tidak cukup.

Takut mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku.

Takut setelah semua kerja keras ini, hasilnya tidak sesuai yang kuinginkan.

Aku takut dengan semua ini.

Menyebalkan.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Jawabannya sudah dikumpulkan.

Bel sudah berbunyi.

Ujian sudah selesai.

Tetapi pikiranku masih duduk di ruang kelas itu.

Masih memandangi soal-soal yang sudah berlalu.

Masih mencoba mengubah sesuatu yang tidak bisa diubah.

Aku mendengar suara desiran angin.

Aku membuka mata.

Kulihat sekelilingku.

Aku berdiri di atas sebuah bukit.

Langit senja membentang sejauh mata memandang.

Rerumputan bergoyang pelan diterpa angin.

Oh ya, tentu saja.

Ia ada di sana.

Jubah putih.

Rambut putih.

Tangan di belakang punggung.

Ikut memandangi cakrawala.

Aku menghela napas panjang.

"Kamu lagi?"

Lelaki tua itu tertawa kecil.

"Apakah aku sudah tidak diterima?"

Aku berbalik, berjalan mendekatinya.

Angin sore terasa dingin.

Tidak menusuk.

Cukup untuk membuatku sadar bahwa aku masih hidup.

"Aku... takut."

Lelaki tua itu hanya diam, tak bergeming.

"Aku benar-benar takut."

Masih diam.

"Aku tidak tahu hasil ujian."

Diam.

"Aku tidak tahu masa depanku sendiri."

Diam.

"Aku tidak tahu apakah semua yang kulakukan ini sudah cukup."

Ia menoleh.

Aku membenci tatapannya saat itu.

Tidak ada rasa kasihan di sana.

Tidak ada janji.

Tidak ada tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hanya tatapan tak acuh.

"Kau ingin aku mengatakan sesuatu?"

Aku hanya mengangguk.

"Katakan bahwa semuanya akan baik-baik saja."

Lelaki tua itu tersenyum kecil.

"Tidak."

Aku menatapnya kesal.

"Kenapa?!"

"Karena aku tidak tahu."

Jawaban itu menghantam lebih keras daripada yang kuduga.

Ia masih tersenyum.

Aku ingin marah.

Aku ingin membantah.

Tetapi, aku tidak bisa.

Karena ia benar.

Ia tidak tahu.

Aku juga tidak tahu.

Tidak ada yang tahu.

Aku berbalik.

Angin kembali berembus.

Senja semakin redup.

Aku merasa sangat lelah.

Bukan lelah karena belajar.

Bukan lelah karena ujian.

Melainkan, lelah karena terus berusaha mengendalikan masa depan.

Aku menatap cakrawala.

Matahari perlahan turun.

"Indah sekali."

Aku menatapnya sangat lama.

"Akhirnya kamu menyadarinya."

Aku menoleh ke lelaki tua itu.

Lelaki tua itu sudah ada di sampingku

Aku mencoba mencerna apa yang terjadi.

Aneh.

Pikiranku tidak memikirkan nilai.

Tidak memikirkan ranking.

Tidak memikirkan masa depan.

Hanya langit.

Hanya sore.

Hanya angin.

Lelaki tua itu menunjuk ke arah matahari.

"Kau lihat itu nak?"

Aku mengangguk.

"Sore tidak pernah menolak malam."

Aku kebingungan.

"Tetapi malam juga tidak pernah berhasil menghentikan pagi."

Kami berdiri tanpa bicara.

Sunyi.

Lama sekali.

Aku melamun.

Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.

Tokoh-tokoh pada soal ujian tadi.

Bob Sadino tidak tahu ia akan menjadi Bob Sadino.

Gus Dur tidak tahu ia akan menjadi Gus Dur.

Mereka yang kisahnya masuk buku tidak pernah berjalan karena mereka tahu hasil akhirnya.

Mereka berjalan karena hari itu belum selesai.

Karena masih ada langkah lagi yang bisa diambil.

Karena masih ada satu sore lagi yang bisa dilihat.

Aku menarik napas panjang.

Dadaku masih terasa berat.

Tetapi tidak sesesak tadi.

Seperti awan yang belum hilang sepenuhnya.

Namun sudah mulai bergerak.

Aku menoleh ke lelaki tua itu lagi.

Lelaki tua itu sudah berjalan menjauh.

"Hei!"

Ia hanya mengangkat tangan kanannya.

Hanya sesaat.

"Kalau aku gagal?"

Ia masih berjalan.

Lalu, dengan suara yang hampir dibawa angin senja, ia berkata,

"Kalau begitu, kau belajar merangkak saja!"

Aku mendengar tawanya dari kejauhan

Kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Dan aku kembali.

Jendela masih terbuka.

Burung-burung masih bertengger di kabel listrik.

Semuanya masih sama.

Aku hanya tersenyum kecil.

Aku tidak ingin tahu apa yang akan terjadi minggu depan.

Aku hanya ingin melihat keluar jendela.

Melihat sore yang perlahan berubah menjadi malam.

Mengingat bahwa hidupku belum selesai ditulis.

Bahwa masih ada halaman berikutnya.

Bahwa masih ada jalan yang belum kulewati.

Jendela masih terbuka.

Sore ini langitnya masih sama.

Dan aku ingin melihat langit di sore berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelas Lagu Kehidupan

Angin malam berembus lembut di antara dedaunan. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu kencang. Aku berjalan sendirian di sebuah jalan yang asing, jalan yang seolah tidak memiliki awal maupun akhir. Di hadapanku berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.  "Aku menunggumu," katanya. "Aku mengenalmu?" tanyaku. Ia tersenyum. "Tidak. Tapi kau mengenal cerita yang kubawa." Sebelum sempat bertanya lagi, dunia di sekelilingku berubah. Maskumambang Aku mendengar suara air. Gelap. Sangat gelap. Seperti berada di lautan yang tak memiliki pantai. "Apa ini?" tanyaku. "Awal." Lelaki tua itu menunjuk ke kegelapan. "Maskumambang." Sebuah kehidupan yang belum lahir. Belum memiliki nama. Belum memiliki mimpi. Belum memiliki luka. Hanya harapan yang mengambang di antara kemungkinan. Wataknya lembut dan penuh kesedihan, seperti sesuatu yang belum pasti akan menjadi apa. Mijil Tiba-tiba cahaya muncul. Tangisan bayi memecah keheningan. Aku melihat se...

Sore yang Sama, Langit yang Berbeda

10 Juni 2026 Ujian telah berakhir. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sebuah kemenangan besar. Seperti garis akhir setelah berlari sangat jauh. Seperti gerbang yang terbuka setelah lama terkunci. Namun, yang kurasakan justru sunyi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ledakan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya kelegaan yang pelan. Aku berjalan melewati jalan pulang dengan tas yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu lalu. Matahari hampir mencapai puncaknya, meninggalkan langit cerah yang panas. Angin menerpa wajahku. Setelah sekian lama, tidak ada buku yang harus segera kubuka setibanya di rumah. Tidak ada jadwal yang harus kususun. Tidak ada rumus yang harus kuhafal. Tidak ada watak macapat yang harus kuingat. Tidak ada. Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. "Jadi... ini rasanya." Aku menghela napas panjang-panjang. Lucu juga. Beberapa minggu terakhir aku terus memikirkan masa depan. Memikirkan nilai. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum jug...