Langsung ke konten utama

Pekan Terakhir Kelas Sepuluh

Angin malam berembus pelan melalui jendela kamarku. Di atas meja yang menyerupai lemari...  buku Matematika, Fisika, dan beberapa lembar catatan berserakan seperti pasukan yang gugur di medan perang.


Aku menatap kalender di layar ponsel.


Dua hari lagi.


Lalu pekan ujian.


Setelah itu, kelas sepuluh akan berakhir.


Aneh.


Selama berbulan-bulan aku merasa waktu berjalan lambat. Tetapi sekarang, ketika aku mencoba menggenggamnya, semuanya terasa meluncur di sela-sela jari.


Aku membaringkan tubuh ke kasur.


Di kepalaku ada terlalu banyak hal.


Aku ingin menyelesaikan esai yang belum sempurna.


Aku ingin mengunggah tulisan ke Medium


Aku ingin mempercantik laman GitHub-ku.


Aku ingin membuat sistem produktivitas baru.


Aku ingin menulis sebuah novel.


Aku ingin membuat roket gula.


Aku ingin memahami fisika lebih dalam.


Aku ingin menjadi lebih sehat.


Aku, ingin menjadi versi terbaik diriku.


Dan entah sejak kapan, semua keinginan itu berubah menjadi suara yang berteriak bersamaan.


"Cepat!"


"Jangan tertinggal!"


"Masih banyak yang belum selesai!"


Aku memejamkan mata.


Untuk sesaat, hanya suara kipas angin yang terdengar.


Lalu aku teringat sesuatu.


Seorang anak laki-laki bernama Danang.


Ya, diriku sendiri.


Lucu, pikirku.


Aku sadar, aku selalu memperlakukan diriku seperti sebuah proyek besar.


Padahal, aku juga manusia.


--


Aku melihat keluar jendela.


Langit malam tampak gelap. Ada beberapa bintang yang berhasil menembus cahaya kota.


Aku menyukai langit.


Ada sesuatu yang menenangkan dari mengetahui bahwa bintang-bintang itu tidak peduli dengan ujian akhir semester minggu depan.


Mereka tidak peduli pada GitHub.


Mereka tidak peduli pada ranking.


Mereka bahkan tidak peduli apakah aku berhasil menyelesaikan seluruh targetku dalam sehari.


Mereka hanya ada.


Tenang.


Diam.


Dan tetap bersinar.


Aku tersenyum kecil.


Mungkin aku juga perlu belajar seperti itu.


---


Di meja belajar, buku Fisika masih terbuka.


Bab Gerak.


Bab yang belum benar-benar kupahami.


Biasanya aku akan panik.


Biasanya aku akan membuat jadwal belajar baru.


Biasanya aku akan mencari video produktivitas tanpa benar-benar belajar.


Namun malam ini berbeda.


Aku duduk.


Mengambil pulpen.


Dan menuliskan satu kalimat kecil di pojok buku.


"Tugas malam ini bukan membangun masa depan. Tugas malam ini hanya memahami satu konsep."


Hanya satu.


Bukan seluruh semester.


Bukan seluruh hidup.


Hanya satu.


---


Aku mulai membaca dan menulis.


Lima belas menit.


Dua puluh menit.


Tiga puluh menit.


Tidak ada pencerahan besar.


Tidak ada ledakan motivasi.


Tidak ada latar musik epik seperti dalam film.


Hanya seorang anak kelas sepuluh yang sedang belajar.


Tetapi anehnya, itu sudah cukup.


Karena untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, aku tidak sedang berlari.


Aku hanya berjalan.


Dan ternyata berjalan tidak seburuk yang kubayangkan.


---


Ketika jarum jam menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam, aku menutup buku.


Ujian masih menunggu.


Fisika masih sulit.


Bahasa Jawa masih menyebalkan.


Masa depan masih penuh tanda tanya.


Dan sebagian besar impianku masih berada di daftar "belum selesai".


Namun untuk pertama kalinya aku tidak merasa tertinggal.


Karena aku akhirnya memahami sesuatu.


Mungkin hidup bukan tentang menyelesaikan semua mimpi secepat mungkin.


Mungkin hidup adalah tentang tetap melangkah meskipun masih ada banyak mimpi yang menunggu, langkah yang menuju sebuah arah yang memang memiliki arti.


Angin malam kembali berembus dari jendela.


Aku menarik napas panjang.


Lalu mematikan lampu.


Besok, aku akan kembali belajar.


Bukan karena aku harus menjadi luar biasa.


Tetapi karena aku masih memiliki satu bab yang ingin kutulis.


Dan bab itu dimulai dengan aku yang memilih untuk tidak terburu-buru lagi. Fokus pada saat ini, fokus pada ujian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelas Lagu Kehidupan

Angin malam berembus lembut di antara dedaunan. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu kencang. Aku berjalan sendirian di sebuah jalan yang asing, jalan yang seolah tidak memiliki awal maupun akhir. Di hadapanku berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.  "Aku menunggumu," katanya. "Aku mengenalmu?" tanyaku. Ia tersenyum. "Tidak. Tapi kau mengenal cerita yang kubawa." Sebelum sempat bertanya lagi, dunia di sekelilingku berubah. Maskumambang Aku mendengar suara air. Gelap. Sangat gelap. Seperti berada di lautan yang tak memiliki pantai. "Apa ini?" tanyaku. "Awal." Lelaki tua itu menunjuk ke kegelapan. "Maskumambang." Sebuah kehidupan yang belum lahir. Belum memiliki nama. Belum memiliki mimpi. Belum memiliki luka. Hanya harapan yang mengambang di antara kemungkinan. Wataknya lembut dan penuh kesedihan, seperti sesuatu yang belum pasti akan menjadi apa. Mijil Tiba-tiba cahaya muncul. Tangisan bayi memecah keheningan. Aku melihat se...

Sebelum Malam Datang

Aku tak tahu mengapa aku menulis ini. Mungkin jika tak kutulis, pikiranku akan terus berkelana. Langit sore terlihat dari jendela kamar, cahayanya menyentuh kulitku. Jingga. Terang. Tenang. Dan, itu membuatku kesal. Bagaimana langit bisa setenang itu sementara isi kepalaku tidak? Di luar sana, dunia berjalan seperti biasanya. Tetangga menjemur pakaian. Burung-burung bertengger di kabel listrik. Seorang anak kecil bersepeda di gang. Sementara aku hanya duduk di sini, memikirkan sesuatu yang bahkan sudah tidak bisa kuubah. Jawaban. Nilai. Ranking. Bahkan masa depan. Aku mencoba menutup mata. Tetapi, semuanya tetap ada. Aku tetap mencoba mengingat soal yang kukerjakan. Aku tetap mencoba menghitung kemungkinan jawaban benar. Aku tetap mencoba memperkirakan nilainya. Dan semakin lama itu kupikirkan, dadaku terasa berat. Takut. Aku takut. Takut nilaiku jelek. Takut usahaku tidak cukup. Takut mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku. Takut setelah semua kerja keras ini, hasilnya tid...

Sore yang Sama, Langit yang Berbeda

10 Juni 2026 Ujian telah berakhir. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sebuah kemenangan besar. Seperti garis akhir setelah berlari sangat jauh. Seperti gerbang yang terbuka setelah lama terkunci. Namun, yang kurasakan justru sunyi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ledakan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya kelegaan yang pelan. Aku berjalan melewati jalan pulang dengan tas yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu lalu. Matahari hampir mencapai puncaknya, meninggalkan langit cerah yang panas. Angin menerpa wajahku. Setelah sekian lama, tidak ada buku yang harus segera kubuka setibanya di rumah. Tidak ada jadwal yang harus kususun. Tidak ada rumus yang harus kuhafal. Tidak ada watak macapat yang harus kuingat. Tidak ada. Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. "Jadi... ini rasanya." Aku menghela napas panjang-panjang. Lucu juga. Beberapa minggu terakhir aku terus memikirkan masa depan. Memikirkan nilai. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum jug...