Langsung ke konten utama

Kota yang Tak Lagi Terlalu Bising

12 Juni 2026

Malam sudah tiba.

Lampu-lampu jalan mulai mengambil alih tugas matahari, kendaraan masih melintas di kejauhan, dan hiruk pikuk kota belum benar-benar hilang. Hanya saja, tidak lagi sekeras siang tadi. Seolah semua orang sepakat untuk sedikit melambat.

Aku berdiri di tepi jembatan penyeberangan yang menghadap ke jalan raya. Angin malam membawa sisa hangat dari aspal yang seharian diterpa matahari.

Entah kenapa aku berada di sini.

Atau mungkin aku tahu alasannya.

Hanya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Aku bersandar pada pagar pembatas.

Ada banyak hal yang memenuhi pikiranku.

Tentang ujian yang akhirnya selesai.

Tentang nilai-nilai yang ternyata tidak seburuk yang kubayangkan.

Tentang proyek-proyek yang masih terbengkalai.

Tentang diriku sendiri.

Tentang seseorang.

Dan tentang pertanyaan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Apakah aku sudah cukup?

"Kalau dipikir-pikir, kamu memang suka memikirkan banyak hal, ya."

Suara itu terdengar di sampingku.

Aku menoleh.

Seorang gadis berdiri di sana. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin malam. Ia mengenakan jaket sederhana dan menatap jalanan di bawah dengan santai, seolah memang sudah lama berada di sana.

"Aku tidak mendengar kamu datang."

"Tentu saja tidak." Ia tersenyum kecil. "Kalau tidak begitu, nanti kesannya dramatis sekali."

Aku terkekeh.

"Jadi... kamu..."

"Melly, Masa lupa?" Ia memiringkan kepalanya. "Padahal baru kenal."

Aku menghela napas pelan.

"Aku sedang bingung."

"Mengenai?"

"Semuanya."

"Spesifik sekali."

Aku tertawa kecil.

Melly ikut tersenyum.

"Kamu boleh mulai dari mana saja."

Aku terdiam cukup lama.

"Aku suka seseorang."

"Hm."

"Tapi aku tidak tahu apakah ini benar-benar suka atau hanya kagum."

"Terus-terus?"

"Aku juga merasa belum cukup."

Melly tidak langsung menjawab.

"Kamu tahu?" lanjutku. "Aku merasa aku harus punya banyak hal. Harus lebih baik. Harus pantas. Harus..."

"Pantas untuk siapa?"

Aku terdiam.

Untuk orang tuaku?

Untuk orang yang kusuka?

Untuk diriku sendiri?

Entahlah.

"Aku tidak tahu."

Melly menatap ke arah lalu lintas yang terus bergerak.

"Kadang kita terlalu sibuk bertanya apakah kita pantas dicintai."

"Lalu?"

"Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah..."

Ia menoleh padaku.

"Apakah kita sudah memperlakukan diri sendiri dengan cukup baik?"

Aku terdiam.

Di bawah sana, lampu merah berubah menjadi hijau.

Kendaraan mulai bergerak lagi.

"Aku juga takut kehilangan kesempatan."

"Tentang apa?"

"Aku menyukai seseorang, panggil saja Nazka"

"Kamu ingin mendekatinya?"

Aku mengangguk.

"Kami mungkin beda kelas nanti."

"Terus?"

"Kalau aku tidak melakukan apa-apa, mungkin akan seperti dulu lagi."

Melly memandang langit malam.

"Dan kalau kamu melakukan sesuatu?"

"Aku tidak tahu hasilnya."

"Nah." Ia tersenyum tipis. "Masalahnya bukan pada hasilnya."

"Lalu?"

"Kamu selalu ingin tahu akhir ceritanya sebelum membaca bab berikutnya."

Aku tertawa pelan.

"Itu terdengar seperti diriku sekali."

"Sepertinya."

Angin malam berembus sedikit lebih kencang.

"Kamu tidak harus tahu apakah kalian akan bersama."

"Tidak?"

"Kamu hanya perlu tahu apakah kamu ingin mengenalnya lebih baik."

Aku memikirkan itu cukup lama.

Mengenalnya lebih baik.

Bukan memilikinya.

Bukan memastikan masa depan.

Hanya mengenalnya.

"Aku juga merasa bersalah."

"Soal proyek?"

Aku mengangguk.

"Aku merasa harus mengerjakan semuanya."

Melly tertawa kecil.

"Omong-omong."

"Hm?"

"Kamu manusia, bukan checklist berjalan."

Aku spontan tertawa.

"Itu terdengar kasar."

"Tapi benar."

Ia menyandarkan kedua tangannya pada pagar pembatas.

"Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus."

"Ya, aku tahu."

"Dan kamu tidak harus menjadi sempurna sebelum merasa berharga."

Aku menatap jalanan di bawah.

Hiruk pikuk kota masih ada.

Namun malam membuat semuanya terasa lebih tenang.

"Melly?"

"Hm?"

"Kalau aku tidak cukup bagaimana?"

Ia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia balik bertanya.

"Kalau temanmu datang kepadamu dan berkata, 'Aku belum cukup,' apa yang akan kamu katakan?"

Aku berpikir sejenak.

"Menyemangatinya dan membantunya untuk bertumbuh."

"Nah."

Aku terdiam.

"Aneh ya." Melly tersenyum kecil. "Kita sering memberikan belas kasih kepada orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri."

Aku menghela napas panjang.

"Sepertinya aku memang terlalu keras pada diriku."

"Mungkin."

"Tapi aku ingin menjadi lebih baik."

"Itu bagus."

"Bagaimana kalau aku gagal?"

Melly menatap langit malam yang dipenuhi sedikit bintang yang berhasil menembus cahaya kota.

"Menurutku, menjadi lebih baik itu bukan tentang tidak pernah gagal."

"Lalu?"

"Tentang tetap memilih untuk bertumbuh."

Aku terdiam.

Beberapa saat kami hanya berdiri di sana.

Mendengarkan suara kendaraan.

Merasa angin malam.

Membiarkan kota tetap menjadi kota.

"Aku rasa..." kataku pelan.

"Hm?"

"Aku tidak perlu tahu apakah Nazka adalah orang yang tepat."

Melly mengangguk.

"Aku hanya perlu mengenalnya lebih dekat."

"Betul."

"Dan kalau ternyata tidak cocok..."

"Itu juga tidak apa-apa."

Aku tersenyum kecil.

"Dan kalau ternyata cocok?"

"Ya syukurlah."

Aku tertawa.

"Kamu sederhana sekali Mel."

"Masa harus ribet?"

Aku menggeleng sambil tersenyum.

Malam semakin larut.

Kota perlahan menjadi lebih tenang.

"Aku juga ingin menjadi lebih baik selama liburan."

"Karena Nazka?"

Aku berpikir sejenak.

"Lagi-lagi, bukan."

"Lalu?"

"Karena aku percaya pada diriku di masa depan."

Melly tersenyum hangat.

"Nah."

Aku memandang langit malam.

Gelap.

Luas.

Tidak memberikan banyak jawaban.

Namun, malam ini aku tidak terlalu membutuhkannya.

"Aku rasa aku mengerti sekarang."

"Mengerti apa?"

Bahwa orang-orang di sekitarku adalah manusia.

Bahwa aku juga manusia.

Bahwa aku tidak harus sempurna.

Bahwa aku tidak harus mengetahui semua akhir cerita.

Bahwa tidak semua ketidakpastian harus ditakuti.

Bahwa beberapa hal memang perlu dijalani untuk dipahami.

"Terima kasih, Mel."

Melly tersenyum kecil.

"Kamu tahu?"

"Hm?"

"Kadang yang kita butuhkan bukan jawaban."

"Lalu?"

"Seseorang yang mau mendengarkan sampai kita menemukan jawabannya sendiri."

Aku tertawa pelan.

"Itu terdengar seperti dirimu."

"Semoga saja."

Angin malam kembali berembus.

Hiruk pikuk kota masih terdengar dari kejauhan.

Tidak hilang.

Hanya menjadi latar.

Dan mungkin hidup memang seperti itu.

Masalah tidak selalu pergi.

Ketidakpastian tidak selalu selesai.

Tetapi kita belajar hidup berdampingan dengannya.

Aku memandang jalanan di bawah untuk terakhir kalinya malam itu.

"Aku akan baik-baik saja, kan?"

Melly tersenyum.

"Kamu masih akan khawatir."

"Kamu masih akan bingung."

"Kamu masih akan membuat kesalahan."

Aku menghela napas.

"Dan kamu masih akan terus bertumbuh."

Aku terdiam.

Lalu tersenyum.

Ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

Malam semakin larut.

Kota terus bergerak.

Aku pikir, aku tidak merasa harus berlari mengejar versi sempurna dari diriku sendiri.

Aku hanya perlu menjadi sedikit lebih baik daripada diriku kemarin.

Dan entah mengapa, di bawah langit malam yang menggantung di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur, itu terasa seperti awal yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelas Lagu Kehidupan

Angin malam berembus lembut di antara dedaunan. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu kencang. Aku berjalan sendirian di sebuah jalan yang asing, jalan yang seolah tidak memiliki awal maupun akhir. Di hadapanku berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.  "Aku menunggumu," katanya. "Aku mengenalmu?" tanyaku. Ia tersenyum. "Tidak. Tapi kau mengenal cerita yang kubawa." Sebelum sempat bertanya lagi, dunia di sekelilingku berubah. Maskumambang Aku mendengar suara air. Gelap. Sangat gelap. Seperti berada di lautan yang tak memiliki pantai. "Apa ini?" tanyaku. "Awal." Lelaki tua itu menunjuk ke kegelapan. "Maskumambang." Sebuah kehidupan yang belum lahir. Belum memiliki nama. Belum memiliki mimpi. Belum memiliki luka. Hanya harapan yang mengambang di antara kemungkinan. Wataknya lembut dan penuh kesedihan, seperti sesuatu yang belum pasti akan menjadi apa. Mijil Tiba-tiba cahaya muncul. Tangisan bayi memecah keheningan. Aku melihat se...

Sebelum Malam Datang

Aku tak tahu mengapa aku menulis ini. Mungkin jika tak kutulis, pikiranku akan terus berkelana. Langit sore terlihat dari jendela kamar, cahayanya menyentuh kulitku. Jingga. Terang. Tenang. Dan, itu membuatku kesal. Bagaimana langit bisa setenang itu sementara isi kepalaku tidak? Di luar sana, dunia berjalan seperti biasanya. Tetangga menjemur pakaian. Burung-burung bertengger di kabel listrik. Seorang anak kecil bersepeda di gang. Sementara aku hanya duduk di sini, memikirkan sesuatu yang bahkan sudah tidak bisa kuubah. Jawaban. Nilai. Ranking. Bahkan masa depan. Aku mencoba menutup mata. Tetapi, semuanya tetap ada. Aku tetap mencoba mengingat soal yang kukerjakan. Aku tetap mencoba menghitung kemungkinan jawaban benar. Aku tetap mencoba memperkirakan nilainya. Dan semakin lama itu kupikirkan, dadaku terasa berat. Takut. Aku takut. Takut nilaiku jelek. Takut usahaku tidak cukup. Takut mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku. Takut setelah semua kerja keras ini, hasilnya tid...

Sore yang Sama, Langit yang Berbeda

10 Juni 2026 Ujian telah berakhir. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sebuah kemenangan besar. Seperti garis akhir setelah berlari sangat jauh. Seperti gerbang yang terbuka setelah lama terkunci. Namun, yang kurasakan justru sunyi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ledakan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya kelegaan yang pelan. Aku berjalan melewati jalan pulang dengan tas yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu lalu. Matahari hampir mencapai puncaknya, meninggalkan langit cerah yang panas. Angin menerpa wajahku. Setelah sekian lama, tidak ada buku yang harus segera kubuka setibanya di rumah. Tidak ada jadwal yang harus kususun. Tidak ada rumus yang harus kuhafal. Tidak ada watak macapat yang harus kuingat. Tidak ada. Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. "Jadi... ini rasanya." Aku menghela napas panjang-panjang. Lucu juga. Beberapa minggu terakhir aku terus memikirkan masa depan. Memikirkan nilai. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum jug...