Langsung ke konten utama

Lagu yang Tertinggal di Ujung Senja

Pagi itu aku memacu Vario milikku sedikit lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena terlambat.

Justru karena terlalu tidak sabar.

Udara pagi masih terasa sejuk saat angin menerpa wajahku. Jalanan belum terlalu ramai. Aku menyenandungkan potongan lagu yang bahkan belum diputar hari itu, sekadar karena suasana hatiku sedang terlalu ringan untuk diam.

Hari ini berbeda.

Hari ini bukan ujian.

Hari ini bukan tentang nilai.

Hari ini adalah tentang menikmati sesuatu yang selama beberapa minggu terakhir hanya menjadi hitungan mundur di kepalaku.

Setelah memarkir motor di bawah jembatan dekat sekolah, aku melihat seseorang baru saja turun dari CBR250 miliknya.

Alfito.

"Akhirnya datang juga," kataku.

Dia hanya tertawa kecil sebelum kami berjalan bersama.

Tak lama kemudian, kami menemukan Krisna.

Dia berdiri agak menjauh dari keramaian, tampak ragu.

"Ayo masuk," kataku.

"Teman sekelasku belum ada, temani dong!" jawabnya pelan.

Aku dan Fito saling berpandangan.

"Ya sudah, bareng kita dulu."

Kadang, seseorang hanya membutuhkan satu orang untuk membuat tempat yang asing terasa sedikit lebih nyaman.

Kami sempat mencari teman-teman yang lain, meskipun ternyata tidak terlalu lama karena akhirnya mereka muncul satu per satu.

Ada Aldi yang belum bisa masuk karena tiketnya masih dibawa temannya. Kami sempat merasa kasihan melihatnya harus menunggu.

Namun, akhirnya kami memutuskan masuk terlebih dahulu.

Pemeriksaan barang berlangsung cepat.

Aku bahkan hampir tidak berhenti.

Tanpa tas.

Tanpa banyak barang.

Hanya beberapa benda yang muat di dua saku celanaku.

Yang memeriksa ternyata Pak Alan.

Entah kenapa rasanya lucu melihat guru bahasa Inggris menjadi penjaga gerbang sebuah konser sekolah.

Kami memasuki area konser.

Beberapa teman sudah berkumpul.

Sebagian besar bermain Minecraft bersama.

Aku memperhatikan mereka sejenak.

Aneh.

Biasanya aku akan langsung bergabung.

Namun kali ini tidak.

Mungkin aku memang sedang ingin menikmati hari ini dengan cara yang berbeda.

Atau mungkin, aku merasa tidak perlu mengalihkan perhatianku ke mana-mana.

Acara demi acara berlalu.

Suasana semakin ramai.

Kami saling bercanda tanpa alasan yang penting.

Mengobrol tentang hal-hal yang mungkin akan terlupakan beberapa hari lagi.

Namun entah mengapa terasa sangat menyenangkan saat itu.

Di sela-sela semuanya, aku akhirnya memberitahu seseorang tentang rahasia yang kusimpan selama kelas sepuluh.

Aku menyukai Nazka.

Mengucapkannya dengan orang lain ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan.

Justru terasa sedikit melegakan.

Seolah ada beban kecil yang akhirnya diletakkan.

Waktu terus berjalan.

Kami menuju tenant makanan.

Aku membeli apple pie.

Terlalu enak untuk ukuran makanan acara sekolah.

Setelah gigitan pertama, aku langsung tahu bahwa uang yang kukeluarkan tidak sia-sia.

Lalu ada makanan lain yang tidak seberuntung itu.

Kami tertawa membicarakan pilihan makanan masing-masing.

Hal-hal kecil.

Namun justru itu yang membuat sebuah hari terasa nyata.

Kemudian konser dimulai.

Band demi band siswa tampil di atas panggung.

Lalu, di tengah keramaian itu, seseorang menyatakan perasaannya kepada orang lain.

Sorak-sorai memenuhi ruangan.

Aku memperhatikan sekeliling.

Dan kemudian melihat Nazka.

Dia tampak mencari seseorang.

Matanya bergerak menyusuri kerumunan.

Sampai akhirnya berhenti.

Padaku.

Hanya beberapa detik.

Tatapan singkat yang segera berlalu.

Aku tetap diam.

Masih belum cukup berani.

Namun kali ini tidak ada penyesalan besar yang datang bersamanya.

Hanya sebuah kesadaran sederhana.

Bahwa aku memang menyukainya.

Dan untuk saat ini, kurasa sudah cukup.

Suasana perlahan berubah.

Kerumunan semakin padat.

Lampu panggung mulai mengambil alih perhatian semua orang.

Sampai akhirnya Payung Teduh naik ke atas panggung.

Ada sesuatu yang berbeda.

Mereka tidak hanya membawakan lagu.

Mereka membawa cerita.

Membawa karya.

Dan ketika keramaian yang tidak perlu mulai mengganggu, ada nada kekecewaan yang terdengar.

Tentang menghargai musik.

Tentang mendengarkan.

Tentang hadir sepenuhnya.

Aku memperhatikan semuanya dari tempatku berdiri.

Untuk sesaat, aku membayangkan diriku dipanggil ke atas panggung.

Menjawab pertanyaan.

Berbicara tentang lagu-lagu yang menemani banyak soreku.

Khayalan kecil yang terasa menyenangkan.

Kemudian lagu itu diputar.

"Menuju Senja."

Aku ikut bernyanyi.

Aku bahkan berhasil mencapai nada yang biasanya terasa terlalu tinggi.

Aku tertawa kecil setelahnya.

Mungkin sedikit terlalu bersemangat.

Namun rasanya menyenangkan.

Ketika lagu berakhir, aku menyadari sesuatu.

Beberapa momen memang tidak diciptakan untuk bertahan selamanya.

Beberapa momen hanya datang untuk dikenang.

Acara perlahan selesai.

Tidak jadi foto kelas.

Tidak jadi nongkrong bersama.

Rencana-rencana kecil yang akhirnya tidak terjadi.

Namun anehnya, aku tidak terlalu kecewa.

Aku pulang seperti biasa.

Menyusuri jalanan Sidoarjo dengan angin yang menerpa wajah.

Sesampainya di rumah, hari itu ternyata belum benar-benar selesai.

Masih ada essay yang harus dirapikan.

Masih ada beberapa kebiasaan kecil yang harus dijaga.

Satu per satu kuselesaikan.

Sampai akhirnya aku melihat hasil akhirnya.

Rapi.

Lengkap.

Indah.

Beberapa saat kemudian, aku mendapatkan DOI.

Aku terdiam cukup lama menatap layar.

Sulit dipercaya.

Di tengah semua ketidakpastian beberapa minggu terakhir, ternyata ada sesuatu yang benar-benar berhasil kuselesaikan.

Malam semakin larut.

Aku sempat memejamkan mata.

Mencoba mencari sebuah jembatan yang diterangi lampu kota.

Mencoba menemukan seseorang yang mungkin bisa mendengarkan cerita panjang tentang hari itu.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Aku membuka mata kembali.

Mungkin takut tertidur seperti kemarin.

Tersenyum kecil.

Mungkin tidak semua cerita harus langsung diceritakan.

Masih ada waktu.

Aku kembali menyelesaikan beberapa kebiasaan kecil sebelum tidur.

Sampai akhirnya meletakkan ponsel di samping tempat tidur.

Hari itu benar-benar berakhir.

Dengan suara lagu yang masih tertinggal di kepala.

Dengan beberapa pertanyaan yang belum terjawab.

Dan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bukan bahagia yang meledak-ledak.

Bukan sedih yang menyakitkan.

Hanya rasa yang tenang.

Bahwa hari itu pernah ada.

Dan aku benar-benar hadir di dalamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelas Lagu Kehidupan

Angin malam berembus lembut di antara dedaunan. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu kencang. Aku berjalan sendirian di sebuah jalan yang asing, jalan yang seolah tidak memiliki awal maupun akhir. Di hadapanku berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.  "Aku menunggumu," katanya. "Aku mengenalmu?" tanyaku. Ia tersenyum. "Tidak. Tapi kau mengenal cerita yang kubawa." Sebelum sempat bertanya lagi, dunia di sekelilingku berubah. Maskumambang Aku mendengar suara air. Gelap. Sangat gelap. Seperti berada di lautan yang tak memiliki pantai. "Apa ini?" tanyaku. "Awal." Lelaki tua itu menunjuk ke kegelapan. "Maskumambang." Sebuah kehidupan yang belum lahir. Belum memiliki nama. Belum memiliki mimpi. Belum memiliki luka. Hanya harapan yang mengambang di antara kemungkinan. Wataknya lembut dan penuh kesedihan, seperti sesuatu yang belum pasti akan menjadi apa. Mijil Tiba-tiba cahaya muncul. Tangisan bayi memecah keheningan. Aku melihat se...

Sebelum Malam Datang

Aku tak tahu mengapa aku menulis ini. Mungkin jika tak kutulis, pikiranku akan terus berkelana. Langit sore terlihat dari jendela kamar, cahayanya menyentuh kulitku. Jingga. Terang. Tenang. Dan, itu membuatku kesal. Bagaimana langit bisa setenang itu sementara isi kepalaku tidak? Di luar sana, dunia berjalan seperti biasanya. Tetangga menjemur pakaian. Burung-burung bertengger di kabel listrik. Seorang anak kecil bersepeda di gang. Sementara aku hanya duduk di sini, memikirkan sesuatu yang bahkan sudah tidak bisa kuubah. Jawaban. Nilai. Ranking. Bahkan masa depan. Aku mencoba menutup mata. Tetapi, semuanya tetap ada. Aku tetap mencoba mengingat soal yang kukerjakan. Aku tetap mencoba menghitung kemungkinan jawaban benar. Aku tetap mencoba memperkirakan nilainya. Dan semakin lama itu kupikirkan, dadaku terasa berat. Takut. Aku takut. Takut nilaiku jelek. Takut usahaku tidak cukup. Takut mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku. Takut setelah semua kerja keras ini, hasilnya tid...

Sore yang Sama, Langit yang Berbeda

10 Juni 2026 Ujian telah berakhir. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sebuah kemenangan besar. Seperti garis akhir setelah berlari sangat jauh. Seperti gerbang yang terbuka setelah lama terkunci. Namun, yang kurasakan justru sunyi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ledakan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya kelegaan yang pelan. Aku berjalan melewati jalan pulang dengan tas yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu lalu. Matahari hampir mencapai puncaknya, meninggalkan langit cerah yang panas. Angin menerpa wajahku. Setelah sekian lama, tidak ada buku yang harus segera kubuka setibanya di rumah. Tidak ada jadwal yang harus kususun. Tidak ada rumus yang harus kuhafal. Tidak ada watak macapat yang harus kuingat. Tidak ada. Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. "Jadi... ini rasanya." Aku menghela napas panjang-panjang. Lucu juga. Beberapa minggu terakhir aku terus memikirkan masa depan. Memikirkan nilai. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum jug...