Aku tidak pernah bertemu Melly lagi setelah hari itu.
Setelah percakapan di jembatan penyeberangan yang diterangi langit malam dan suara kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku kembali menjalani hidup seperti biasa. Setidaknya, seperti yang kupikir sebagai biasa.
Aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan aneh.
Aku masih mengingat semuanya dengan jelas.
Percakapan itu.
Tatapan tenangnya.
Cara dia mendengarkan tanpa menghakimi.
Bahkan suasana malam di dunia yang hanya ada saat aku memejamkan mata.
Namun, ketika aku kembali menutup mata beberapa saat kemudian, tidak ada apa-apa.
Tidak ada jembatan.
Tidak ada lampu kota.
Tidak ada Melly.
Seolah semua itu hanyalah mimpi.
Dan mungkin memang begitu.
Hari-hari setelahnya berjalan dengan pelan, tetapi berbeda.
Aku mulai merapikan tempat tidur setiap pagi.
Membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar.
Aku mulai memperhatikan berapa banyak air yang kuminum.
Aku mulai berdiri lebih sering daripada berbaring sambil memainkan ponsel.
Aku mulai berlari.
Awalnya terasa berat.
Ada rasa malu yang sulit dijelaskan ketika berlari sendirian di antara orang-orang asing. Rasanya seperti semua orang memperhatikanku.
Namun, ternyata tidak.
Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Sama seperti aku yang tak pernah benar-benar mengingat wajah orang-orang yang berlari di sekitarku.
Pemikiran itu justru membebaskanku.
Aku berlari lebih jauh dari sebelumnya.
Mencapai rekor baru.
Melihat angka VO2 Max meningkat.
Mendapat skor tidur yang semakin baik.
Berdiri sambil mengetik.
Memperhatikan tubuhku sendiri.
Hal-hal kecil yang sebelumnya terasa sepele kini berubah menjadi tanda bahwa aku sedang berusaha merawat diriku.
Aku masih tidak bisa pergi ke gym sesering dulu.
Memberku telah habis.
Beberapa pengeluaran yang tidak direncanakan membuatku harus menundanya.
Namun ternyata, beberapa dumbbell tua dan resistance band di rumah sudah cukup untuk melanjutkan kebiasaan itu.
Aku tidak tahu apakah aku sedang menjadi lebih baik.
Tetapi aku tahu satu hal.
Aku sedang bergerak.
Dan itu sudah cukup.
Di sela-sela semuanya, ada satu hal yang terus muncul di pikiranku.
Konser.
Gelar seni sekolah.
Hari perpisahan kecil sebelum liburan benar-benar dimulai.
Aku tidak terlalu takut dengan acaranya.
Aku lebih takut pada diriku sendiri.
Takut tidak cukup baik.
Takut penampilanku kurang.
Takut menyesali sesuatu.
Takut tidak melakukan apa pun.
Aku mencoba memejamkan mata beberapa kali.
Berharap jembatan itu muncul lagi.
Berharap Melly muncul dari balik lampu kota seperti sebelumnya.
Berharap bisa bertanya apakah semua ini akan baik-baik saja.
Namun tidak ada apa-apa.
Hanya gelap.
Dan suara kipas angin yang berputar pelan di kamar.
Mungkin aku terlalu memikirkannya.
Mungkin mimpi memang hanya mimpi.
Atau mungkin, dunia itu hanya muncul ketika aku benar-benar membutuhkannya.
Aku tersenyum kecil.
Lalu kembali memejamkan mata.
Berharap.
Menunggu.
Tidak terjadi apa-apa.
Dan sialnya...
aku malah tertidur.
Pagi harinya, hal pertama yang kulihat justru bukan pesan dari teman-teman atau jadwal acara.
Melainkan skor tidur.
Excellent.
Bahkan lebih baik dari biasanya.
Aku menatap layar beberapa detik.
"Serius?"
Aku mengusap wajah pelan.
Bukankah seharusnya aku lebih gugup?
Kenapa justru tubuhku memutuskan untuk beristirahat dengan sangat baik?
Pikiranku kembali berputar.
Outfit.
Rambut.
Barang bawaan.
Apakah aku perlu membawa ini?
Bagaimana kalau itu?
Bagaimana kalau ternyata aku kurang mempersiapkan diri?
Aku segera bangkit dari tempat tidur.
Kembali memeriksa semua yang sudah kusiapkan semalam.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Aku berhenti sejenak.
Menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Aku melihat ke arah meja.
Tidak ada tas.
Aku baru menyadarinya.
Ponsel.
Dompet.
Kunci.
Semuanya muat di dua saku celanaku.
Aku berdiri beberapa saat di depan pintu kamar.
Aneh.
Setelah semua persiapan panjang ini, ternyata tidak banyak yang benar-benar perlu kubawa.
Aku melirik jam sekali lagi.
06:42.
Matahari pagi mulai masuk melalui jendela.
Hari itu akhirnya tiba.
Aku merapikan bajuku sekali lagi.
Lalu tersenyum kecil kepada diriku sendiri yang terpantul samar di cermin.
"Semoga ini berhasil."
Komentar
Posting Komentar