Langsung ke konten utama

Sepeda yang Belum Bisa Dikendarai

 Getaran halus dari gelang pintarku membangunkanku.

Bukan suara alarm yang nyaring.

Hanya getaran kecil di pergelangan tangan.

Namun cukup untuk menarikku keluar dari sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.

Aku membuka mata perlahan.

Langit-langit kamarku menyambut seperti biasa.

Tetapi pikiranku masih tertinggal di tempat lain.

Aku sedang berada di sebuah bukit.

Jalanannya beraspal, tetapi penuh retakan dan beberapa bagian tampak rusak. Rumput liar tumbuh di tepian jalan. Langitnya mendung, meski tidak sampai gelap.

Aku mendorong Vario milikku.

Aneh.

Biasanya aku mengendarainya.

Namun dalam mimpi itu, aku hanya berjalan sambil menuntunnya.

Seolah aku tahu ke mana harus pergi, tetapi tidak benar-benar tahu caranya sampai ke sana.

Aku terus berjalan.

Sampai akhirnya menemukan sebuah taman kecil.

Ada seorang perempuan.

Ada seorang laki-laki.

Mereka tampak sedang berbincang.

Mungkin berkencan.

Aku tidak tahu.

Aku tidak bisa mengingat wajah mereka.

Hanya perasaan hangat yang samar.

Lalu semuanya menghilang.

Aku terbangun.

Aku menatap langit-langit kamar beberapa saat.

Mencoba mengingat lebih banyak.

Namun seperti mimpi pada umumnya, detail-detail itu mulai memudar.

Aku menghela napas pelan.

Pagi itu berjalan seperti biasa.

Merapikan tempat tidur.

Membuka jendela.

Membiarkan angin pagi masuk ke dalam kamar.

Aku mengambil ponsel dan kembali membuka halaman essay yang kuunggah semalam.

Nyata.

Aku tersenyum kecil.

Masih sulit percaya bahwa aku berhasil menyelesaikannya.

Aku memutar sebuah lagu.

"Menuju Senja."

Lagu itu kembali memenuhi kamar.

Lirik-lirik yang kemarin hanya menjadi bagian dari konser kini terdengar berbeda.

Lebih tenang.

Lebih dekat.

Aku duduk sambil memandang keluar jendela.

Lama sekali.

Cahaya matahari mulai menyentuh kulitku.

Untuk sesaat, semuanya terasa baik-baik saja.

Sampai ibuku masuk ke kamar sambil membawakan sarapan.

Dan percakapan itu terjadi.

Tentang adikku dan teman-temannya.

Tentang bagaimana ia pergi jauh untuk belajar naik sepeda agar tidak ada orang yang mengenalnya.

Tentang bagaimana ibuku bertanya, "Kakak tidak kasihan?"

Tentang bagaimana aku berpikir bahwa mungkin masalahnya bukan sekadar belajar sepeda.

Tetapi agar tidak ada orang yang mengenal melihatnya.

Lalu ibu pergi.

Dan aku tetap diam di kamar.

Awalnya aku hanya duduk melihat isi piring.

Lalu berpikir.

Kemudian tanpa sadar, air mata mulai mengalir.

Aku langsung menutup pintu.

Diam-diam.

Tanpa suara.

Karena tiba-tiba aku merasa seperti sedang melihat diriku sendiri.

Bukan diriku saat ini.

Melainkan diriku yang selama ini berusaha menjadi cukup baik.

Cukup pintar.

Cukup kuat.

Cukup berhasil.

Agar tidak mengecewakan siapa pun.

Diriku yang takut.

Dan sekarang, adikku membawa beban yang serupa.

Aku membiarkan diriku menangis.

Singkat.

Tetapi cukup untuk meninggalkan rasa sesak.

Setelah perasaanku sedikit lebih tenang, aku keluar dari kamar.

"Aku ke perpustakaan dulu ya."

Ayah dan ibuku mengizinkan seperti biasa.

Dan tentu ada tambahan darinya.

"Semoga sukses, aamiin."

Mereka tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya aku baru saja menangis.

Juga tidak tahu mengapa aku menangis.

Dan mungkin memang tidak perlu tahu.

Aku mengendarai Vario menyusuri jalanan yang mulai ramai.

Namun pikiranku masih tertinggal di rumah.

Tentang adikku.

Tentang diriku.

Tentang betapa banyak orang yang ternyata hanya ingin belajar sesuatu tanpa takut dihakimi.

Tentang betapa banyak orang yang memikul harapan besar dari orang lain.

Aku terus memikirkannya.

Terlalu dalam.

Sampai sebuah klakson keras membuyarkan lamunanku.

Aku refleks menarik rem.

Sebuah mobil pickup berada tidak jauh di depanku.

Dadaku berdegup lebih cepat.

Napasku tak beraturan.

"Fokus, astaga."

Aku kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini lebih sadar.

Lebih memperhatikan jalan.

Sesampainya di perpustakaan, suasana tenang segera menyambutku.

Aroma buku.

Suara pendingin ruangan yang lembut.

Beberapa orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.

Aku memilih duduk di sudut favoritku.

Mengeluarkan buku yang bahkan belum tentu akan kubaca.

Aku hanya ingin menenangkan diri.

Aku memejamkan mata sejenak.

Mencoba mengatur napas.

Saat kembali membukanya, seseorang sudah duduk di kursi seberang.

"Kalau kali ini aku bilang aku nyata, apa kamu akan percaya?"

Aku membeku beberapa detik.

"...Melly?"

Dia mengangkat alis.

"Kamu terlihat kecewa."

"Bukan kecewa."

"Lalu?"

"Aku cuma tidak menyangka."

Melly menutup buku di hadapannya.

"Aku juga tidak menyangka kamu akan hampir menabrak pickup hanya karena terlalu banyak berpikir."

Aku menatapnya.

"Bagaimana kamu tahu?"

"Kamu pikir kamu satu-satunya pengguna jalan raya?"

Aku tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu.

Namun tidak lama.

Aku lanjut menceritakan kejadian tadi pagi.

"Apakah aneh kalau aku menangis karena hal seperti ini?"

Dia diam beberapa saat.

Lalu bertanya,

"Kalau ada seorang anak kecil yang takut belajar naik sepeda karena takut dilihat orang lain saat jatuh, apa menurutmu dia aneh?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena... itu manusiawi."

Melly mengangguk.

"Lalu kenapa kamu tidak memberikan belas kasih yang sama pada dirimu sendiri?"

Aku terdiam.

"Tapi aku seharusnya lebih kuat."

"Menurut siapa?"

"Aku kakak."

"Kakak bukan berarti tidak boleh sedih."

Aku memandang meja di hadapanku.

"Yang membuatmu menangis bukan sepedanya."

Aku mengangguk pelan.

"Kamu mungkin melihat dirimu sendiri."

Aku kembali mengangguk.

"Kamu melihat anak kecil yang dulu berusaha keras agar tidak terlihat gagal."

"Kamu melihat ketakutanmu sendiri."

"Kamu melihat bahwa adikmu juga sedang membawa beban yang tidak seharusnya dia bawa sendirian."

Mataku mulai terasa panas lagi.

"Tapi itu juga berarti sesuatu."

"Apa?"

"Kamu mengerti."

"Mengerti apa?"

"Bahwa manusia tidak tumbuh karena mereka sempurna."

"Mereka tumbuh karena ada seseorang yang berkata, 'Tidak apa-apa kalau jatuh. Kita coba lagi.'"

Aku mengingat adikku.

Membayangkannya belajar sepeda bersama teman-temannya.

Tertawa.

Takut.

Mencoba lagi.

"Bagaimana kalau aku juga takut?"

Melly tersenyum kecil.

"Kalau begitu, kamu juga boleh belajar pelan-pelan."

"Kamu tidak harus langsung bisa."

"Kamu tidak harus langsung berani."

"Kamu hanya perlu terus mencoba."

Aku menunduk.

Lalu tertawa kecil.

"Kalau dipikir-pikir, aku juga masih belajar naik sepeda."

"Bedanya?"

"Aku naik sepeda yang berbeda."

Melly tertawa pelan.

"Dan semua orang juga begitu."

Kami diam sejenak.

Melly menyandarkan dagunya pada telapak tangan. "Oh ya, bagaimana konser kemarin?"

Aku terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil. 

"Menyenangkan."

"Hanya itu?" tanyanya dengan ekspresi tidak percaya.

Aku menghela napas pelan. 

"Aku bertemu banyak teman. Ada Payung Teduh. Essaynya juga sudah kuposting setelah sampai rumah, tentu mendapat DOI gratis. Yang penting, aku mendapat apple pie enak dengan harga 12 ribu rupiah!"

Melly mengangguk pelan. 

"Terdengar seperti hari yang cukup besar."

"Kurasa begitu."

"Hmm..." Dia menatapku beberapa detik sebelum senyum jahil mulai muncul di wajahnya. "Lalu bagaimana dengan Nazka?"

"Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura tidak tahu." Dia terkekeh pelan. "Aku diberi tahu seseorang."

"Damar? Anak itu memang menyebalkan."

"Bagaimana dengan tatapan itu?"

Aku langsung memalingkan pandangan. "Itu cuma beberapa detik."

"Beberapa detik yang masih kamu ingat sampai sekarang."

"Itu bukan berarti apa-apa."

"Danang," katanya sambil mengangkat alis, "kamu bahkan bisa mengingat harga apple pie yang kamu beli kemarin. Jangan bilang aku harus percaya bahwa tatapan dengan orang yang kamu sukai tidak berarti apa-apa."

Aku terdiam, lalu tertawa kecil karena tidak bisa membantahnya.

"Jadi?" lanjut Melly. "Apa rencanamu?"

"Tidak ada."

"Benarkah?"

"Serius. Aku hanya ingin mengenalnya lebih baik. Kalau memang cocok, ya syukur. Kalau tidak..." Aku mengangkat bahu. "Tidak apa-apa."

Melly tersenyum. "Nah, itu baru Danang yang aku kenal."

Aku menatapnya bingung.

"Dulu kamu melihat semuanya seperti ujian yang harus lulus. Sekarang kamu mulai melihatnya sebagai perjalanan untuk mengenal seseorang." Dia berhenti sejenak. "Menurutku itu pertumbuhan yang luar biasa."

Aku menunduk, memperhatikan jemariku sendiri.

"Lagipula," lanjut Melly dengan nada menggoda, "masih ada satu hal yang belum terjawab."

"Apa lagi?"

Dia tersenyum penuh arti.

"Waktu dia yang mungkin mencarimu di tengah keramaian itu..." Dia memiringkan kepala sedikit. "Apa menurutmu kamu juga sedang berharap menemukannya?"

Aku membuka mulut untuk menjawab, lalu mengurungkannya.

Melly tertawa pelan melihat reaksiku.

"Tenang saja," katanya sambil kembali membuka bukunya. "Kamu tidak perlu menjawab sekarang."

"Kenapa?"

"Karena beberapa jawaban memang baru bisa ditemukan setelah kita cukup berani untuk jujur pada diri sendiri."

Kami berbincang lebih lama.

Tentang keluarga.

Tentang harapan.

Tentang bagaimana menjadi dewasa ternyata bukan tentang mengetahui semua jawaban.

Tetapi tentang menerima bahwa kita tidak harus mengetahui semuanya sekarang.

Sampai akhirnya aku menyadari waktu sudah berlalu cukup lama.

"Aku harus pulang."

Melly mengangguk.

Saat aku berdiri, aku sempat menoleh.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Sudah mendengarkan."

Dia tersenyum.

"Danang."

"Hm?"

"Kalau nanti adikmu jatuh saat belajar sepeda..."

Aku menunggu.

"...jangan hanya bantu dia berdiri."

"Ajari dia bahwa jatuh bukan sesuatu yang memalukan."

Aku mengangguk pelan.

Lalu melangkah keluar dari perpustakaan.

Ternyata sudah sore.

Dalam perjalanan pulang, aku berhenti sejenak di tempat langgananku.

Membeli singkong keju goreng favoritku.

Masih hangat.

Masih seenak biasanya.

Aku tersenyum kecil.

Hari ini dimulai dengan tangisan.

Namun tidak berakhir dengan kesedihan.

Karena mungkin, menjadi lebih baik bukan berarti tidak pernah terluka.

Melainkan mampu memahami luka itu.

Lalu tetap memilih untuk pulang.

Tetap memilih untuk mencoba lagi.

Dan tetap memilih untuk bersikap lembut kepada diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi.

Termasuk kepada anak kecil dalam diri kita yang dulu hanya ingin belajar naik sepeda tanpa takut ditertawakan.

Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelas Lagu Kehidupan

Angin malam berembus lembut di antara dedaunan. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu kencang. Aku berjalan sendirian di sebuah jalan yang asing, jalan yang seolah tidak memiliki awal maupun akhir. Di hadapanku berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.  "Aku menunggumu," katanya. "Aku mengenalmu?" tanyaku. Ia tersenyum. "Tidak. Tapi kau mengenal cerita yang kubawa." Sebelum sempat bertanya lagi, dunia di sekelilingku berubah. Maskumambang Aku mendengar suara air. Gelap. Sangat gelap. Seperti berada di lautan yang tak memiliki pantai. "Apa ini?" tanyaku. "Awal." Lelaki tua itu menunjuk ke kegelapan. "Maskumambang." Sebuah kehidupan yang belum lahir. Belum memiliki nama. Belum memiliki mimpi. Belum memiliki luka. Hanya harapan yang mengambang di antara kemungkinan. Wataknya lembut dan penuh kesedihan, seperti sesuatu yang belum pasti akan menjadi apa. Mijil Tiba-tiba cahaya muncul. Tangisan bayi memecah keheningan. Aku melihat se...

Sebelum Malam Datang

Aku tak tahu mengapa aku menulis ini. Mungkin jika tak kutulis, pikiranku akan terus berkelana. Langit sore terlihat dari jendela kamar, cahayanya menyentuh kulitku. Jingga. Terang. Tenang. Dan, itu membuatku kesal. Bagaimana langit bisa setenang itu sementara isi kepalaku tidak? Di luar sana, dunia berjalan seperti biasanya. Tetangga menjemur pakaian. Burung-burung bertengger di kabel listrik. Seorang anak kecil bersepeda di gang. Sementara aku hanya duduk di sini, memikirkan sesuatu yang bahkan sudah tidak bisa kuubah. Jawaban. Nilai. Ranking. Bahkan masa depan. Aku mencoba menutup mata. Tetapi, semuanya tetap ada. Aku tetap mencoba mengingat soal yang kukerjakan. Aku tetap mencoba menghitung kemungkinan jawaban benar. Aku tetap mencoba memperkirakan nilainya. Dan semakin lama itu kupikirkan, dadaku terasa berat. Takut. Aku takut. Takut nilaiku jelek. Takut usahaku tidak cukup. Takut mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku. Takut setelah semua kerja keras ini, hasilnya tid...

Sore yang Sama, Langit yang Berbeda

10 Juni 2026 Ujian telah berakhir. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sebuah kemenangan besar. Seperti garis akhir setelah berlari sangat jauh. Seperti gerbang yang terbuka setelah lama terkunci. Namun, yang kurasakan justru sunyi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ledakan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya kelegaan yang pelan. Aku berjalan melewati jalan pulang dengan tas yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu lalu. Matahari hampir mencapai puncaknya, meninggalkan langit cerah yang panas. Angin menerpa wajahku. Setelah sekian lama, tidak ada buku yang harus segera kubuka setibanya di rumah. Tidak ada jadwal yang harus kususun. Tidak ada rumus yang harus kuhafal. Tidak ada watak macapat yang harus kuingat. Tidak ada. Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. "Jadi... ini rasanya." Aku menghela napas panjang-panjang. Lucu juga. Beberapa minggu terakhir aku terus memikirkan masa depan. Memikirkan nilai. Memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum jug...